Fumigasi

Pengertian Fumigasi

Dari sisi Bahasa, kata Fumigasi berasal dari serapan Bahasa Inggris yaitu fume, yang berarti asap. Bila diartikan secara bebas ke dalam Bahasa Indonesia berarti pengasapan. Sedangkan arti dari fumigasi secara harfiah adalah salah satu metode yang dilakukan oleh perusahaan jasa pest control dalam pengendalian hama yang dilakukan pada ruang tertutup dan kedap udara dengan menggunakan gas yang mengandung pestisida dengan bertujuan untuk menciptakan kondisi steril, bebas hama dalam ruangan tersebut, yang dilakukan oleh professional manajemen pengendalian hama.

Digunakan untuk apa fumigasi?

Biasanya fumigasi dilakukan untuk kegiatan yang menyangkut manufaktur, ekspor dan import barang, proses penyimpanan. Fumigasi dapat dilakukan terhadap: perpustakaan, gudang, arsip, mesin tetas, kapal, aqis, barantan, bahan pustaka, container, dan lain – lain. Agar semuanya steril (bebas hama).

 

Siapa saja yang berhak melakukan fumigasi?

Karena keterkaitan erat dengan masalah bahan kimia pestisida atau insektisida, yang berhubungan langsung terhadap lingkungan, maka tidak sembarang orang dapat melakukan fumigasi, maka diaturlah oleh Departemen Pertanian dan Peternakan Indonesia untuk mengakreditasikan perusahaan – perusahaan jasa fumigasi yang berhak melakukan fumigasi, dengan diawasi dan audit setiap setahun sekali.

Bahan kimia apa saja yang digunakan?

Biasanya para fumigator (perusahaan yang melakukan jasa fumigasi) menggunakan tiga bahan kimia berikut ini:

  1. Hydrogen Phospide (PH3), dapat menimbulkan reaksi dengan semua jenis metal atau besi.
  2. Sulfur Fluoride (SO2F2), dapat diaplikasikan terhadap semua media
  3. Methyl Bromida (Ch3Br), digunakan untuk proses karantina dan pengapalan, dapat menimbulkan reaksi terhadap karet, dan meninggalkan zat sisa atau residu pada lemak dan protein.

Karena menggunakan bahan kimia maka selalu saja ada resiko yang muncul dalam fumigasi, terutama kepada tenaga operasional yang melakukan fumigasi di lapangan, resiko tersebut biasanya keracunan ringan (gejalanya: lemas, sesak, sakit perut, diare, muntah, telinga berdenging) atau bahkan dapat menimbulkan keracunan berat (gejalanya: nyeri otot, kejang, menggigil dan gemetar). Tentu saja hal ini dapat dihindari jika fumigasi dilakukan dengan standar yang telah ditentukan oleh pemerintah, dalam hal ini Departemen Pertanian.